Kisah gadis 14 tahun yang “diculik” teman Facebooknya menohok kita. Ia sempat menghilang selama tiga hari dan membuat orang tuanya kalang-kabut. Saat ditemukan polisi, diketahui ia sudah tiga kali digagahi teman Facebooknya. Ini pelajaran penting bagi orang tua untuk lebih serius mengawasi anaknya dalam menggunakan Internet.Melati–sebut saja nama gadis itu begitu–kabur ketika bersama orang tuanya bertamu ke rumah seorang kerabat di Serpong, Tangerang. Siswi kelas II SMP di Sidoarjo, Jawa Timur, ini rupanya termakan bujuk rayu Arie Power, temanya di Facebook. Tiga hari berselang, mereka akhirnya ditemukan oleh polisi di sekitar rumah makan “Nelayan”, Tangerang. Arie saat ini diperiksa oleh polisi dengan tuduhan membawa kabur seorang anak. Tuduhan itu bisa saja berubah menjadi pencabulan terhadap anak di bawah umur.

sumber : tempointeraktif.com

Kejadian itu merupakan salah satu bukti bahwa Internet bisa menjadi “predator” bagi anak-anak. Di Eropa atau Amerika Serikat bahkan lebih gawat lagi, anak-anak dibujuk oleh para pedofil lewat situs jejaring sosial yang sedang populer, seperti Facebook, Friendster, atau Twitter.

Pelaku kriminal memang bisa beraksi di mana saja. Namun kejahatan di Internet kini harus diwaspadai karena sebagian masyarakat belum menyadarinya betul. Apalagi saat ini situs seperti Facebook sedang naik daun. Di Indonesia ada sekitar 17,6 juta pengguna Facebook. Mereka bukan cuma orang dewasa. Tercatat sekitar 360 ribu anggotanya adalah anak-anak di bawah 13 tahun.

Anak-anak amat rawan menjadi korban rayuan gombal para penjahat. Mereka bisa ditipu untuk memberikan informasi pribadi, seperti nomor ponsel atau nomor rekening dan sandi kartu ATM. Tak sedikit pula anak-anak di bawah umur yang kemudian terjebak dalam pelacuran. Di Surabaya, Facebook bahkan digunakan untuk menjajakan gadis-gadis belia dengan tarif Rp 500 ribu sampai Rp 800 ribu.

Situs-situs jejaring sosial, seperti Facebook dan MySpace, sebenarnya “mengharamkan” anak di bawah usia 13 tahun bergabung dengan mereka. Peringatan ini dicantumkan pada ketentuan layanan. Namun banyak orang tua yang abai soal ini. Mereka malah kerap kali bangga bila anak mereka rajin bermain Facebook. Memang banyak game menarik yang disuguhkan di situs seperti Facebook, tapi itu bukan alasan untuk membiarkan anak-anak berselancar di ranah maya sesukanya. Mereka harus mendampingi anaknya, mengetahui dengan siapa saja sang anak berteman.

Kedekatan anak dengan orang tua merupakan kunci menghindari dampak buruk Internet. Memasang peranti lunak pemblokir situs porno dan memperketat penggunaan komputer tidak akan banyak membantu. Anak-anak masih bisa mengaksesnya lewat ponsel, yang sekarang makin canggih.

Pemerintah sebenarnya telah memiliki program Internet Sehat untuk mencegah kejadian seperti yang menimpa Melati. Inilah kampanye yang mengajak orang tua dan perusahaan penyedia Internet bersama-sama mengawasi penggunaan Internet agar aman bagi anak-anak. Sayang, kampanye ini kurang gencar sehingga belum semua orang tua menyadari ancaman kejahatan lewat Internet.

Post to Twitter Posting ke Twitter!

Artikel terkait lainnya :